29.1.05

Menyusuri Jejak Leluhur di Situs Gunung Padang

Sabtu, 27 September 2003

KALA memasuki kawasan Situs Megalit Gunung Padang, roda waktu seakan berputar mundur kembali ke masa silam, zaman di mana sejarah belum tercatat. Bangunan batu berundak di Desa Karyamukti, Kecamatan Campaka, sekitar 45 kilometer arah selatan Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, mengundang kita untuk mereka-reka tradisi macam apakah yang mampu melahirkan karya monumental di atas perbukitan itu.

JIKA masa pemerintahan Syailendra meninggalkan jejak bernama Candi Borobudur yang tercatat sebagai salah satu dari tujuh keajaiban dunia, Situs Gunung Padang patut dicatat sebagai saksi sejarah zaman keemasan megalitik. Saat ini, situs bersejarah itu boleh dibilang merupakan peninggalan masa megalitik terbesar di Asia Tenggara, dan menjadi bagian dari jalur kebudayaan masyarakat zaman megalitik di Asia dan Pasifik.

Situs Gunung Padang juga merupakan obyek wisata budaya nan eksotis. Akses menuju ke lokasi situs itu bisa ditempuh dengan menggunakan kendaraan bermotor. Lebih asyik lagi jika kita menggunakan kendaraan dengan penggerak empat roda yang biasa digunakan untuk jalanan berbatu dan terjal.

Dari Jakarta, kita dapat menempuh perjalanan melewati kawasan Puncak sambil menghirup udara segar pegunungan. Sepanjang perjalanan kita dapat menikmati hamparan perkebunan teh dan sayur-mayur yang ada di tepian jalan. Setiba di pusat Kota Cianjur, yang juga dikenal sebagai kota tauco, perjalanan dilanjutkan ke bagian selatan Cianjur yang medannya berliku-liku.

Setelah menempuh perjalanan sekitar 30 kilometer ke arah selatan Kabupaten Cianjur, akhirnya kita memasuki Kecamatan Campaka. Sekitar 200 meter dari persimpangan jalan, kita tidak lagi menjumpai jalanan beraspal yang mulus. Tubuh akan terguncang-guncang di dalam kendaraan saat melewati jalan berbatu, yang sebagian hanya dilapisi tanah, hingga ke lokasi situs dengan jarak sekitar 15 kilometer.

Selain itu terdapat beberapa percabangan jalan yang membingungkan pengunjung situs bersejarah tersebut. Hal ini disebabkan belum adanya penunjuk arah menuju lokasi situs.

PERJALANAN mencapai Situs Gunung Padang serasa menuju ujung langit. Melelahkan, karena medan yang terjal dan berliku. Mendebarkan, karena kita dibuat tak sabar menanti kejutan masa purba. Makin dekat ke tujuan, daya pikat situs yang menjadi mata rantai budaya masa megalitik di Asia Pasifik itu terasa makin kuat.

Keletihan badan serasa sirna begitu membasuh muka dan kedua tangan dengan air yang mengalir di dalam ceruk dari batu. Kejernihan airnya terasa menyejukkan jiwa dan membangkitkan semangat baru untuk segera memasuki kawasan situs itu. Sejumlah pengunjung terlihat mengambil air dari ceruk itu sebagai tanda mata.

Ternyata, perjalanan belum berakhir. Untuk mencapai situs itu kita masih harus berjalan menaiki undakan batu yang konon memiliki seribu anak tangga dengan medan curam. Namun, sebagian anak tangga itu telah hilang karena dimakan usia sehingga menyulitkan pengunjung melewatinya. Pengunjung juga dapat melalui anak tangga buatan yang terletak di sebelah kanan gerbang kawasan itu dengan undakan tidak terlalu curam.

Begitu menapaki anak tangga terakhir, keletihan berubah menjadi perasaan takjub saat menyaksikan situs megalit itu. Kekuatan dahsyat dari masa lampau terpancar dari bangunan berundak di kawasan itu. Ternyata, nenek moyang kita telah mampu menghasilkan karya monumental yang diperkirakan merupakan situs peninggalan sejarah terbesar di Asia Tenggara pada zaman megalit.

Situs peninggalan sejarah itu terdiri dari bangunan berundak-undak yang berukuran panjang 118 meter dan lebar 40 meter pada teras pertama. Bangunan itu terdiri dari lima tingkatan, yang makin ke atas luasnya makin menyempit.

Struktur keseluruhannya adalah struktur terbuka, terbagi atas teras-teras berundak yang terbuka serta undak-undaknya dibatasi batu-batu berdiri. Pada umumnya, bangunan teras berundak-undak ini dipergunakan untuk upacara- upacara, dan mungkin juga untuk penguburan.

Ribuan batu yang berbentuk batangan dipasang untuk penguat dinding struktur undak, lantai, tangga batu, dan pembatas halaman. Ada pula yang ditegakkan sebagai batas fitur. Batuan bahan bangunan ini termasuk jenis batuan beku andesit yang mendekati basal, berwarna hitam, dan strukturnya cukup kompak.

Di dekat gerbang masuk situs itu terdapat tumpukan batu di bawah sebuah pohon yang rindang. Saat mengamati bangunan peninggalan masa megalitik tersebut, kita juga dapat menikmati kesejukan hawa pegunungan di tempat itu sambil duduk di atas pelataran situs yang ditanami rumput. Selain itu, di sebelah kiri teras pertama situs tersebut terdapat bangunan dengan susunan batu tegak dan batu datar yang membentuk halaman empat persegi panjang.

Menurut arkeolog Haris Sukendar dari Pusat Penelitian Arkeologi Nasional (Puslit Arkenas), bangunan itu kemungkinan merupakan tempat berkumpul para pemimpin masyarakat dalam memutuskan perundangan maupun aturan- aturan yang harus dipatuhi.

Di bagian kanan pelataran pertama situs itu terdapat tumpukan batu menjulang tinggi. Sayang, bentuk asli bangunan itu tidak dapat diketahui karena telah ambruk dimakan usia. Menurut Dahlan, juru kunci situs itu, konon bangunan itu sempat dijadikan tempat ibadah oleh Prabu Siliwangi, penguasa Kerajaan Pajajaran saat itu.

Peninggalan purbakala yang tampak mencolok di Situs Gunung Padang adalah bangunan berundak berukuran besar yang dikelilingi perbukitan. Bangunan itu dikonstruksi sederhana, dengan ribuan batangan batu tanpa ikatan. Bebatuan itu ditumpangkan pada lereng bukit bernama Gunung Padang, dengan elevasi 895 meter di atas permukaan laut.

Seusai mendaki bangunan berundak yang ditumpangkan pada lereng Gunung Padang, kita dapat menyaksikan halaman kedua pada situs tersebut. Halaman itu terdiri dari beberapa teras yang disusun berundak yang ditandai adanya susunan anak tangga.

Menurut Haris, teras-teras yang lebih tinggi digunakan dalam upacara-upacara yang berkaitan dengan pemujaan arwah. Di salah satu teras itu terdapat batangan batu yang berbentuk melingkar. Di tengah lingkaran itu terdapat batu berbentuk balok.

Diperkirakan, ratusan atau bahkan ribuan orang ikut ambil bagian dalam pembuatan situs itu, mulai dari membelah batu, mengangkut dan mengatur balok-balok batu. Penempatan dan perekayasaan pengaturan batu dilakukan oleh orang- orang ahli dalam arsitektur prasejarah, karena kemungkinan bangunan itu runtuh sangat besar jika dibangun tanpa keahlian.

Berdasarkan penampilan fisik dan lokasinya, Gunung Padang merupakan bangunan dari suatu gambaran sejarah manusia yang sedang dalam pencarian tempat bermukim yang permanen. "Ternyata kita berada di antara kelompok itu, memiliki sejumlah kesamaan dalam banyak segi kehidupan dengan kelompok-kelompok Austronesia yang telah bermukim tetap di kawasan Asia Tenggara-Pasifik-Madagaskar," tandas arkeolog Soejono.

BELAJAR sejarah memang tidak terbatas pada teks dalam buku. Akan lebih mengasyikkan jika kita belajar langsung ke tempat-tempat bersejarah itu sambil berwisata. Benak kita akan langsung berimajinasi tentang bagaimana kehidupan nenek moyang kita pada masa prasejarah itu. Bagaimana nenek moyang kita mampu menciptakan karya monumental dengan teknologi tinggi pada zamannya.

Sayangnya, proses pembelajaran di situs megalit itu jadi terganggu karena kondisi fisik bangunan berundak itu memprihatinkan. Halaman situs itu terlihat mulai tertutup ilalang. Ratusan batang batu di lokasi itu berserakan, bahkan banyak batu pada undakan yang telah hilang. "Jangankan pemugaran Situs Gunung Padang, biaya perawatan situs ini saja masih sangat minim," keluh Dahlan.

Seusai berkeliling, kita dapat keluar dari kawasan situs lewat jalan alternatif yang relatif lebih landai dibanding tangga batu buatan nenek moyang. Tepat di dekat anak tangga paling bawah terdapat bangunan permanen yang dapat digunakan sebagai tempat beristirahat para pelancong, dilengkapi dengan kamar mandi.

Matahari telah condong ke arah barat. Sinarnya menyirami bangunan berundak yang tinggal keping-keping sejarah megalitik. Siluet matahari sore itu menembus pepohonan yang ada di kawasan itu, dan menerpa bebatuan. Belum puas rasanya belajar sejarah kepada nenek moyang lewat karya mereka, namun waktu memaksa kita untuk kembali ke peradaban masa kini.

Sebelum meninggalkan lokasi situs, sempatkan diri menengok ke belakang. Bangunan berundak Situs Gunung Padang terlihat diam membisu. Suasana alam pedesaan makin memperkukuh kesunyian situs itu. Saksi sejarah megalitik itu pun kembali sendiri, berteman akrab dengan perbukitan bernama Gunung Padang. Ketika kaki melangkah, bangunan berundak itu seolah terus memanggil untuk kembali.... (EVY RACHMAWATI)

Posting Komentar