20.9.05

Tiga agama satu Tuhan?

Suatu ketika, di suatu milis seseorang mempertanyakan adanya tiga agama yang datang dari satu Tuhan yang sama. Pertanyaan bernada protes tersebut sepertinya keluar sebagai tanggapan terhadap keadaan dunia saat ini yang masih carut marut, yang di antaranya disebabkan konflik antaragama (setidaknya diwarnai, dibumbui?). "Kenapa Tuhan tidak menciptakan satu agama saja?" demikianlah ringkasnya.

Saya, pada waktu itu, sempat memberikan tanggapan akan hal tersebut. Namun sayang, hehe..., surat saya tak di-approve oleh sang moderator milis.

Diingatkan oleh perbincangan tadi pagi melalui Yahoo! Messenger yang menyerempet diskusi serupa, saya jadi tertarik untuk memuatnya di sini. And let the story begins...

Saya tidak hafal betul syair tembang Imagine-nya John Lennon, tapi ada yang cukup saya ingat, yaitu bagian yang membayangkan tidak adanya negara/kebangsaan, agama, dan sebagainya, yang mungkin menurut pengarang syair merupakan penyebab konflik antarmanusia di muka bumi (kalau saya tidak salah, John Lennon menjelang akhir hayatnya merupakan bobotoh ideologi "kiri"). Sebagai jawaban atas syair tersebut, saya pun berdalih sendiri, bahwa andai tidak ada agama atau negara sekalipun, manusia akan tetap bertengkar sepanjang hidupnya. Dari kisah putra2 Adam pun kita tahu, bahwa konflik antarmanusia itu sudah ada sejak masa-masa awal keberadaan manusia di Bumi.

Lalu, mengapa Tuhan menciptakan tiga agama untuk umat manusia? Saya jadi termenung dan balik bertanya, apakah benar Tuhan menciptakan tiga agama?

Dalam al-Qur'an ada ayat yang menyebutkan bahwa Tuhan (Alloh SWT) telah mengutus manusia pilihan (nabi & rosul) kepada setiap kaum, kepada setiap bangsa. Itu dulu. Dalam ayat lain disebutkan bahwa Tuhan telah menyempurnakan seluruh ajaran-Nya melalui ajaran yang dibawa oleh Muhammad. Ajaran yang dibawa Muhammad adalah ajaran pamungkas yang berlaku untuk semua umat hingga akhir zaman, yang menyempurnakan ajaran-ajaran sebelumnya.

Nah, dari suntingan-suntingan di atas kita dapat menyimpulkan bahwa bimbingan Tuhan (agama) itu telah diturunkan kepada masing-masing/tiap kaum/bangsa (tiap kesatuan masyarakat manusia). Ajaran tersebut tentulah mengandung dasar ajaran yang sama, karena berasal dari sumber yang sama, yaitu yang dalam ajaran Islam disebut ajaran Tauhid, ajaran tentang Ketunggalan Tuhan. Dari ayat yang disunting berikutnya kita kemudian dihadapkan kepada sebuah logika sederhana, bahwa Tuhan telah menyampaikan ajaran yang sempurna yang menggantikan ajaran-ajaran sebelumnya. Ajaran ini, karena sifatnya yang telah disempurnakan, diberlakukan kepada seluruh umat manusia dari masa sampainya ajaran tersebut hingga akhir zaman, kiamat.

Tiga agama satu Tuhan? Pernyataan tersebut menjadi tidak tepat, karena sesungguhnya hanya ada satu agama. Satu agama, yaitu agama yang telah disampaikan kepada masing-masing umat pada zaman dahulu, yang kemudian disempurnakan dalam ajaran yang disampaikan melalui Muhammad: ajaran Islam.

Persoalannya, apakah kita percaya akan "kabar gembira" tersebut? Kalau percaya, maka pertanyaan yang dikemukakan dalam judul artikel ini sudah terjawab. Jika tidak, sesungguhnya "tidak ada paksaan dalam agama" (Laa iqrooha fiddiin), "untukmulah agamamu dan begitu pula agamaku untukku" (Lakum diinukum waliyadiin).
Posting Komentar